Komik dan Keberagaman

Dulu saya sempat membahas pentingnya diferensiasi dalam membuat komik. Hal ini karena saya berpendapat bahwa komik itu memiliki ciri pasar persaingan monopolistik. Namun ketika saya berkunjung ke toko buku Gramedia dan mencoba mencari komik Indonesia (salah satunya yang diterbitkan Koloni – salah satu divisi dari Elex Media) hal sebaliknya yang terjadi. Saya tidak melihat adanya diferensiasi dari komik Indonesia, bahkan semuanya cenderung “mengarah” ke komik Jepang. Diferensiasi justru datang dari penerbit kecil dan mereka yang berjuang untuk mempopulerkan komik Indonesia melalui Cergam (Cerita Bergambar). Jika Amerika memiliki Graphic Novel, Jepang memiliki Manga, dan Korea dengan Manhwa, maka Indonesia punya Cergam.

Melihat ini saya menduga kalau penerbit besar hanya memiliki kepentingan bisnis (mencari untung) tanpa melihat masa depan industri komik Indonesia. Karena itu komik – komik yang diterbitkan umumnya yang populer di pasar (umumnya dengan target remaja). Sedangkan penerbit – penerbit kecil yang lebih mempunyai keinginan untuk memajukan industri komik dalam negeri mengalami kesulitan melawan penerbit besar tersebut. Kendala umum yang saya lihat dari penerbit kecil adalah ketidak teraturan jadwal terbit serta umur yang relatif singkat.

Kalau dilihat lebih luas lagi, apa yang terjadi di industri komik juga terjadi di beberapa sektor industri lainnya, misalnya industri tekstil. Perdagangan bebas tanpa adanya upaya proteksi dari pemerintah pada akhirnya hanya akan membunuh industri dalam negeri. Dalam kasus industri tekstil, serbuan produk impor dari China yang sangat murah membuat produsen tekstil dalam negeri terpaksa tutup dan melakukan PHK. Kalau dalam industri komik, produk – produk Jepang dan negara lain lebih murah “diproduksi” [1] dan lebih cepat laku di pasaran dibanding produk – produk dalam negeri yang secara kualitas memang tertinggal.

Peran pemerintah memang cukup sulit diharapkan dalam mendukung industri komik ini, namun paling tidak perlu ada upaya – upaya konstruktif dari pelaku industri itu sendiri. Penerbit besar memang kini sudah membuka jalan untuk menerbitkan komik – komik dalam negeri, tapi sayangnya mereka sangat mengekor produk – produk yang sudah ada. Entah ini karena faktor komikus yang mengekor atau seleksi ketat dari penerbit yang hanya menerbitkan produk – produk serupa.

Kalau dari sisi komikus, saya melihat adanya keseragaman cara menggambar dan mengolah cerita. Umumnya adalah ala Jepang. Memang budaya Jepang sudah cukup mengakar kuat di industri ini, dan rasanya akan sulit untuk sedikit lepas darinya. Hal ini tidaklah buruk cuma akhirnya menutup gerbang eksplorasi seni dari medium komik sendiri. Sedangkan komikus – komikus lain yang bereksplorasi dalam karyanya menghadapi kesulitan dalam proses seleksi penerbit. Kondisi pasar memang belum siap untuk menerima komik “yang berbeda”. Keseragaman telah mengasingkan yang “berbeda”.

Apakah hal ini berarti kembali lagi kepada selera pasar?

Tampaknya ya, sebagai pengguna akhir dari komik, selera pembaca akan menentukan jenis komik mana yang lebih disukai atau tidak. Sampai saat ini selera itu masih berkutat pada manga Jepang. Selama tidak ada keterbukaan dari pembaca dalam negeri, maka akan sulit melihat keberagaman dalam komik Indonesia.

Komik Koloni

Sequen - Majalah Cergam

Kampungan - Kumpulan Cergam

Catatan:
[1] Lebih murah diproduksi karena penerbit tidak perlu repot – repot melakukan proses mencari dan menseleksi komik dalam negeri. Belum lagi mempertimbangkan waktu serta ketersediaan naskah komik. Akhirnya membeli hak cipta akan relatif lebih murah dan praktis.

[2] Untuk informasi lebih lanjut mengenai “Kampungan” bisa klik disini.

Advertisements

About this entry