Komik dan Pasar Monopolistik

Komik sebagai sebuah komoditas sekaligus sebuah representasi sang komikus, apabila dilihat dari jenis pasarnya maka dapat dikategorikan kedalam pasar persaingan monopolistik. Kenapa? Berikut sedikit penjelasannya:

Pada umumnya, jenis pasar dapat dibedakan menjadi empat: pasar persaingan sempurna, pasar monopoli, pasar oligopoli, dan pasar persaingan monopolistik. Apabila dibuat tabel perbandingan:

Komik masuk ke dalam pasar persaingan monopolistk karena industri komik menghasilkan produk yang relatif banyak namun terdiferensiasi, misal dalam hal genre (ada komik jenaka, komik petualangan, komik olah raga, atau komik remaja). Mereka semua sama namun tak serupa. Selain itu, barrier to entry untuk masuk ke industri ini relatif rendah. Hal ini terlihat dari banyak dan terus bertambahnya aneka judul baru komik di rak-rak toko buku [1].

Lalu apa implikasinya?

Dengan melihat komik sebagai komoditas dan representasi individu, seorang komikus untuk dapat menjual karyanya harus dapat memberikan sesuatu yang berbeda (diferensiasi) dibanding produk-produk yang sudah ada sebelumnya. Diferensiasi dapat dilakukan secara lebih luas, tak terbatas dari jenis genre. Misalnya diferensiasi dengan menggunakan gaya gambar yang berbeda, penciptaan plot cerita yang unik, format buku komik, atau hal-hal kreatif lainnya sehingga komik yang dihasilkan dapat standing out of the crowd.

Namun ada permasalahan dalam hal komik sebagai suatu komoditas dan representasi individu, yaitu: selera pasar. Karena pasar persaingan monopolistik menawarkan produk-produk yang banyak, maka konsumen memegang daya tawar yang lebih tinggi dalam menentukan pilihannya, atau istilahnya: demand creates supply. Hal ini membuat komikus dalam menciptakan produk (komik) nya akan berusaha untuk dapat memenuhi keinginan/selera konsumennya. Jika konsumen sedang menggemari kisah-kisah percintaan dan si komikus membuat kisah horor, maka dapat dipastikan komik tersebut tidak akan laku di pasaran.

Walau demikian, si komikus tidak akan mati seketika. Dalam perspektif ilmu pemasaran, akan selalu ada yang namanya celah pasar (niche market). Jika saat ini Blackberry sedang digandrungi masayarakat, bukan berarti Nokia dan Sony Ericsson kehilangan pembelinya. Begitu juga dengan komik. Keragaman genre dan pembaca akan menciptakan celah pasar meskipun kecil. Biasanya komikus yang masuk ke dalam celah pasar itu umum dikenal sebagai komikus yang idealis. Mereka membuat komik bukan sebagai komoditas untuk memenuhi tuntutan pasar, tapi membuat komik sebagai sarana untuk berekspresi (karya seni). Dan mereka percaya: supply creates its own demand.

Dalam perkomikan Indonesia saat ini, produk-produk yang beredar di pasaran didominasi oleh komik-komik Jepang. Sehingga selera pasar komik saat ini adalah manga. Terlepas dari jenis genre dan gaya menggambarnya, lebih luas masyarakat kita memang lebih senang dengan produk/komik luar (impor). Kenapa demikian? Hal ini tak terlepas dari peran penerbit dan toko buku yang sekaligus berperan sebagai “penyalur” (supplier) dari produk ini (juga ingat asumsi di atas dimana toko buku berperan sebagai “pasar”nya). Jika ditarik garis lurus ke belakang, akan terdapat sebuah jawaban yang mungkin klasik atau klise, yaitu: UUD (ujung-ujungnya duit). Bagi mereka (produsen), komik-komik impor telah terbukti laku di pasaran dan mampu mendulang rupiah [2]. Dan ini juga terkait dengan kualitas produk-produk tersebut.

Tetapi, seberat apapun kondisi pasarnya, komik Indonesia tidak akan pernah mati. Saya percaya itu. Celah pasar yang sempit akan selalu ada. Dan seiring dengan membaiknya kemampuan dan kegigihan perjuangan para komikus lokal, maka celah pasar itu akan terus membesar dan suatu saat akan menempatkan komikus pada hirarki teratas.

Catatan:
[1] Hal ini diasumsikan komik sebagai komoditas dan representasi individu (komikus) yang bertarung dalam sebuh pasar yang sama (dalam hal ini, pasarnya/arenanya itu adalah toko buku).

[2] Kapan-kapan akan dibahas hubungan antara komikus dengan penerbit yang seolah serupa dengan hubungan antara kuli dengan taoke. Apabila di zoom out, komik sebenarnya adalah produk dari industri penerbitan dan industri penerbitan ini erat terkait dengan jaringan toko buku. Dan toko buku ini bentuk pasarnya adalah oligopoli. Perbedaan sudut pandang terhadap letak komik dalam suatu industri ini akan menghasilkan analisis yang berbeda.

Advertisements

About this entry